TERBENTUKNYA PERGERAKAN NASIONAL : FAKTOR PENDUKUNG DAN LAHIRNYA PERGERAKAN NASIONAL



1.      Faktor Pendukung Lahirnya Pergerakan Nasional

a.      Faktor Intern
Faktor-faktor intern yang telah mendukung dan mendorong lahirnya pergerakan nasional, antara lain keinginan untuk memeberbaskan diri dari penjajahan karena pahitnya penderitaan rakyat indonesia, munculnya golongan cendekiawan yang mempelopori dan mendirikan organisasi pergerakan, kesatuan indonesia dibawah Pax Nederlandica menuntun ke arah kesatuan bangsa.

Adanya undang-Undang Desentralisasi 1903, yang diantaranya mengatur pembentukan kota praja. Hal itu memperkenalkan tata cara demokrasi modern kepada rakyat indonesia. Pergerakankebangsaan di Indonesia bisa juga dikatakan sebagai reaksi kepada semangat kedaerahan yang tidak menguntungkan bagi perjuangan kemerdekaan. Semangat kedaeraahan itu membuat bangsa Indonesia terpecah-belah dan mudah diadu domba.

TERBENTUKNYA PERGERAKAN NASIONAL : FAKTOR PENDUKUNG DAN LAHIRNYA PERGERAKAN NASIONAL

b.      Organisasi Pergerakan Nasional

a.       Budi Utomo
Pendiri Budi Utomo adalah para mahasiswa STOVIA ( School tot Opleideing van Inlandsche Aartsen). STOVIA yaitu sekolah untuk mendidik calon dokter pribumi. STOVIA ada di kota jakarta. Salah satu pendiri Budi Utomo yaitu Soetomo. Budi Utomo secara resmi berdiri pada tahun 1908 tepatnya tanggal 20 mei. Semboyan Budi Utomi adalah “mengingkatkan martabat rakyat”. Inspirasi pendirian Budi Utomo datang dari Dokter Wahidin Sudirohusodo. Ia adalah seorang pensiunan dokter Jawa. Ia mendirikan Yayasan beasiswa atau Dana Pelajar ( studiefonds ). Yayasan ini berdiri untuk membiayai pemuda-pemuda pandai dan ingin meneruskan studinya ke sekolah-sekolah yang lebih tinggi, tetapi tidak memiliki biaya.

Tujuan Budi Utomo Yaitu :
1.      Mencapai Kemajuan nusa dan bangsa dengan jalan memajukan pendidikan dan kebudayaan.
2.      Mempertinggi cita-cita kemanusiaan untuk mencapat kehidupan bangsa yang terhormat.

Tokoh-Tokoh Budi Utomo yang berperan besar antar lain Dr. Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Cipto Mangunkusumo, Radjiman Wedyodiningrat, R.A. Tirtikusumo, Suryodiputro, Pangeran Noto Dirodjo, dan R, Gunawan Mangunkusumo.

b.      Sarekat Islam
Sarekat islam (SI) semula bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Sarekat Dagang Islam didirikan oleh Haji Samanhudi dan R.M. Tirtosudirjo di Solo pada tahun 1911. Faktor yang melatarbelakangi terbentuknya Sarekat Islam adalah sebagai berikut.
1)      Sarekat Dagang Islam dapat menjadi “wadah” perjuangan para pedagang islam dalam menangani gelombang perdagangan Cina perantauan yang semakin Ekspansif dan monopolis. Kegairahan berdagang orang Cina perantauan sangat dipengaruhi oleh Revolusi cina yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1911. Revolusi itu membangunkan harga diri dan kesadaran emosional, kemudian membangun ikatan-ikatan eksklusif yang bercorak nasionalis Cina. Semua itu sangat memengaruhi kinerja pedagan Cina di Indonesia, Khususnya Solo.
2)      Sarekat Dagang Islam menjadi wadah perjuangan menghadapi semua bentuk penghinaan terhadap penduduk pribumi. Dalam kongres di Surabaya tanggal 10 september 1912, atas ide dan saran dari H.O.S. Cokroaminoto, Sarekat Dagang islam diubah namanya menjadi Sarekat Islam.

      Perubahan nama itu sesua tuntutan kebutuhan saat itu. Menurut H.O.S. Cokroaminoto, organisasi ini harus terbuka bagi semua masyarakat dari berbagai latar belakang profesi. Semua masyarakat pada lapisan bawah yang sudah sejak berabad-abad lamanya tidak tersentuh perubahan, harus mendapat perhatian Sarekat Islam.

Menurut Anggaran Dasarnya, tujuan pendirian Sarekat Islam adalah sebagai berikut.
1)      Mengembangkan Jiwa Dagang.
2)      Membantu anggota yang menderita dan kesulitan.
3)      Memajukan pendidikan.
4)      Menaikkan derajat penduduk asli indonesia.
5)      Menentang pendapat-pendapat yang salah tentang islam.

Pada tanggal 26 Januari 1913, Sarekat Islam mengadakan kongres di Surabaya. Hasil dari keputusan yang sudah diambil dalam kongros tersebut antara lain sebagai berikut.
1)      H.O.S. Cokroaminoto terpilih sebagai ketua.
2)      Surabaya ditetapkan sebagai pusat kegiatan,
3)      Sarekat Islam terbuka bagi bangsa Indonesia dengan Islam sebagai dasar persatuan.
4)      Membatasi masuknya pegawai negeri dalam keanggotaan Sarekat Islam.

Kemudian setelah itu diadakannya lagi kongres di Surabaya, Sarekat islam mengalami beberapa perkembangan, antara lain sebagi berikut.
1)      Tahun 1915, Sarekat islam ikut adalam aksi Komite Indie Weerbar dan mendesak berdirinya Dewan Rakyat (Volksraad).
2)      Tahun 1917, Sarekat Islam pecah menjadi dua, Penyebabnya yaitu masuknya paham sosialisme-marxisme yang dibawah oleh Semaun, Alimin, dan Darsono. Ketiga tokoh tersebut adalah anggota ISDV (Indische Sosial Democratische Vereniging) cabang semarang, Sarekat Islam terbagi menjadi Sarekat Islam merah dan Sarekat Islam Putih, Sarekat islam merah menganut paham sosialis kiri. Pemimpinnya yaitu Alimin, Semaun, Darsono, dan Muso. Sarekat islam putih berpegang pada ajaran Islam. Pemimpinnya yaitu K.H. Agus Salim Dan H.O.S. Cokroaminoto.
3)      Pada tahun 1918, Sarekat islam menempatkan H.O.S Cokroaminoto sebagai anggota Dewan Rakyat (Volksraad).
4)      Tahun 1920 merupakan puncak perkyembangan Sarekat Islam. Pengaruh Sarekat islam sangat dirasakan oleh masyarakat. Difat dan corak Sarekat Islam sebagai organisasi perjuangan sangat terlihat. Sarekat Islam bersifat demokratis,sosialis, dan ekoomis.
5)      Tahu 1923, dalam kongres di madiun, Sarekat Islam mengganti nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Partai Sarekat Islam bersifat nonkooperatif terhadap belanda.
6)      Tahun 1927, dalam kongres diputuskan bahwa Partai Sarekat Islam bertujuan mencapai Indonesia merdeka berasaskan Islam.

Dalam Perkembangan selanjutnya, partai sarekat islam mengubah nama  menjadi partai sarekat islam indonesia (PSII). Nama PSI diubah menjadi PSII karena sifat perjuangan partai yang sangat nasionalis. Tokoh-tokoh Sarekat Islam antara lain : Haji Samanhudi, R.M. Tirtosudirjo, H.O.S. Cokroaminoto, K.H, Agus salim, Abikusno Cokrosuyoso, dan abdul Muis.


c.       Indische Partij (IP)
Indische Partij berdiri dikota bandung pada tanggal 25 desember 1912. Pendirinya yaitu Dr. E.F.E. Douwes Dekker sebagai ketua sedangkan Suwandi Suryaningrat (KI Hajar Dewantara)
Dan dr. Cipto Mangunkusumo sebagai wakil ketua. Ketia tokoh  ini kemudian dikenal dengan “tiga serangkai:. Adapun tujuan Indische Partij adalah menuju Indonesia merdeka.

      Sebagai media untuk menyebarluaskan pandangan-pandangan Indische Partij dipakai surat kabar De Express. Melewati surat kabar ini, Indische Partij berkembang ke berbagai daerah, Hal ini terbukti dengan didirikannya 30 cabang IP dengan anggota sejumlah 7.300 orang yang sebaian besar merupaka Indo-Belanda, sedangkan jumlah anggota dari rakyat indonesia 1.500 orang.

      Melihat tujuan dan cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan di atas dapat dikatakan bahwa Indische Partih merupakan partai pilitik yang pertama kali ada di Indonesia. Permohonan izin pendirian partai ditolah oleh pemerintah Hindia Belanda dan dinyatakan sebagai partai terlarang dengan alasan organisasi itu berdasarkan politik dan dikhawatirkan dapat mengancam keamanan umum.

      Pada waktu pemerintah kolonial belanda hendak merayakan ulang tahun ke 100 kemerdekaan negeri belanda dari penjajahan Prancis, di Bandung dibentuklah Komite Bumiputera. Komite ini menerbitkan tulisan Ki Hajar Dewantara yang berjudul “Als is Eens nederlander Was…”, berisi tentang sindiran keras perihal ketidakadilan di wilayah jajahan. Adanya pendapat kegiatan komite ini berbahaya maka pada bulan Agustus 1913 ketiga tokoj Indische Partij dijatuhi hukukan buangan.

      Douwes dekker dibuang ke Timor Kupang, dr. Cipto Mangunkusumo dibuang ke Banda, Dan Ki Hajar Dewantara dibuang  ke Bangka. Tetapi atas permintaan mereka sendiri pembuangan itu dipindahkan ke negeri Belanda. Kesempatan di negeri Belanda tersebut ternyata dipakai oleh ketiga tokoh tersebut untuk menambah da memperdalam ilmu.

      Dengan kepergian kegia pemimpin tersebut maka kegiatan Indische partij lemah. Kemudian Indische Partih berganti nama menjadi Partai Insulinde dengan asas utamanya mendidik suatu nasionalisme Hindia dengan memperkuat cita-cita persatuan bangsa.

      Kembalinya Douwes Dekker dari negeri Belanda tidak banyak berarti bagi perkembangan Partai Insulinde Pada bulan Juni 1919 partai ini berganti nama menjadi National Indische Partij (NIP), Namun partai ini tidak banyak berpengaruh terhadapt rakyat. Sedangkan pembebasan dibidang pendidikan dengan mendirikan taman siswa.

d.  Perhimpunan Indonesia (PI)
Organisasi ini pada mulanya bernama Indische Vereeniging yang berdiri di negeri belanda pada tahun 1908. Organisasi ini dipelopori oleh para mahasiswa indonesia yang sedang belajar dibelanda. Indische Vereeniging pada mulanya bergerak pada bida sosial, tahun Indonesia antara lain R.P. Sosro Kartono, R. Husein Djoyodiningrat, R.M Noto Suroto, Notodiningrat, Sutya Kasyayangan saripada, Sumitro kolopaking dan Apituley.

Disamping bergerak dibidang sosial, organisasi ini merambah ke dunia politik. Untuk menyalurkan gagasannya, mereka menerbitkan majalah “Hindia Putra”. Kegiatan ini makin radikal setelah tahun 1924 berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Kemudian majalan “Hindia Putra” diganti nama menjadi “indonesia merdeka”. Tokohnya yang terkenal terutama Moh. Hatta dan Ahmad Subarjo.

PI banyak menulis artikel perjuangan di “Indonesia Merdeka”. Perhimpunan Indonesia juga mendatangi kongres-kongres diluar negeri untuk memperoleh dukungan. Perhimpunan Indonesia dibawah pimpinan Moh. Hatta diakui oleh organisasi lain diindonesia sebagai pelopor dalam perjuangan diplomasi ke luar negeri. Dalam pertemuan-pertemuan yang dihadirinya ditegaskan tentang tuntutan Indonesia merdeka, seperti pada Kongres liga Demokrasi Internasional pertaa di Paris tahun 1926 dan Kongres Liga Demokrasi Indonesia.

Keyakinan yang dikembangkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah :
1)      Perlunya persatuan seluruh tanah Indonesia.
2)      Perlunya mengikutsertakan seluruh tanah air Indonesia.
3)      Adanya perbedaan kepentingan antara perjajah dan yang dijajah maka tidak mungkin adanya kerja sama (nonkooperatif).
4)      Perlunya kerja sama dan segala cara harus dilakukan untuk memulihakan jiwa dan raga kehidupan bangsa Indonesia yang rusak akibat penjajahan.

Karena kegiatan perhimpunan Indonesia tidak disukai oleh Belanda, maka bukan september
Pemimpin-pemimpin perhimpunan Indonesia ditangkap dan diadili. Pemimpin tersebut antara lain Moh. Hatta, Nazir Datuk Pamuncak, Ali Sastroamidjoyo, dan Abdul Djojodiningrat. Dalam pengadilan di Den Haag bulan Maret 1928, Moh. Hatta mengajukan pembelaan dengan judul indonesia Vrij (Indonesia Merdeka). Keempat tokoh tersebut akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti bersalah, tetapi belanda tetap mengawasi dengan ketat kegiatan Perhimpunan Indonesia.

e.  Partai Nasional indonesia (PNI)
PNI didirikan pada tanggal 4 juli 1927 dibandung, PNI merupakan buah pikiran Ir. Soekarno. PNI berdiri dengan tujuan berjuang untuk mencapai kemerdekaan indonesia dengan berlandaskan asas percaya diri sendiri serta memperbaiki keadaan politik, ekonomi, da sosial rakyat dengan kekuatan sendiri.

Hanya dua tahun setelah pendiriannya, yakni tahun 1929, anggota PNI berjumlah 10.000 orang dan 6.000 orang ada di daerah Priangan. Pada tanggahl 18 sampai 20 Mei 1929, diadakalah kongres PNI kedua di Jakarta. Selain memilih kembali pengurus lama, PNI pun telah mengambil keputusan sebagai berikut :
1)      Bidang ekonomi/sosial, menyokong perkembangan PNI, mendirikan koperasi-koperasi, studienfonds dan fond korban atau partijfinds ( untuk anggota-anggota yang terkena tindakan pengamanan pemerintah), serikat-serikat pekerja, sekolah-sekolah, dan rumah sakit.
2)      Bidang politik, mengadakan hubungan dengan perhimpunan indonesia di negeri belanda dengan menunjuk perhimpunan Indonesia sebagai wakil PPPKI di luar negeri. PPPKI adalah permufakatan perhimpunan-perhimpunan politik kebangsaan indonesia. PPPKI merupakan suatu federasi yang dibentuk PNI pada tanggal 17-18 desember 1927 di bandung dalam suatu kongres PNI yang pertama.

Kegiatan PNI yang makin meluas dianggap membahayakan pemerintahan kolonial. Oleh karena itu, pada tanggal 29 desember 1929 tokoh-tokoh PNI ditangkap dan dimasukkan ke penjara Sukamiskin Bandung, Ir. Soekarno dan rekan-rekannya ditangkap polisi di Yogyakarta, kemudian dibawa kebandung, lalu pada tanggal 29 desember 1929 diajukan ke pengadilan bandung. Pada tanggal 18 agustus sampai dengan 29 september 1930, Ir. Soekarno menulis dalam pembelaannya yang terkenal dengan judul “ Indonesia Menggugat “ yang isinya antara lain :
“Kini telah menjadi jelas bahwa pergerakan nasionalisme di Indonesia bukanlah bikinan kaum intelktual dan komunis saja, tetapi merupakan reaksi umum yang wajar dari rakyat jajahan yang dalam batinnya telah merdeka. Revolusi Indonesia adalah revolusi zaman sekarang, bukan revolusinya sekelompok kecil kamu inteltual. Tetapi revolusinya bagian terbesar rakyat dunia yang terbelakang dan diperbodoh.”

f. Partai Komunis Indonesia (PKI)
A bekerja pada sebuahjaran Komunis masuk indonesia dibawah oleh orang belanda yaitu H.J.F.M. Sneevliet, yang bekerja pada sebuah surat kabar di Semarang. H. J. F. M. Sneevliet mendirikan partai yang berhaluan komunis dengn nama Indische Social Democraties Vereeniging (ISDV). Namun ternyata, ajaran komunis kurang mendapat respons dari masyarakat, sehingga ISDV mengubah taktik penyebarluasan pengaruh dengan melakukan penyusupan ke organisasi-organisasi yang telah ada. Salah satu korban penyusupan komunis ialah SI, melalui tokoh Semaun dan Darsono. Akhirnya pada tanggal 23 Mei 1920 dibentuklah organisasi dengan nama Partai Komunis Hindi yang pada bulan Desember tahun yang sama namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada tanggal 16 Desember 1926 PKI melakukan pemberontakan di berbagai tempat di Pulau Jawa. Tapi berhasil dipadamkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Adapun di Sumatra Barat, pemberontakan PKI meletus pada tanggal 1 Januari 1927, tetapi dalam waktu tiga hari pemberontakkan tersebut

Subscribe to receive free email updates: