PERLAWANAN TERHADAP VOC : KESULTANAN BANTEN, MATARAM SERTA MAKASSAR (GOWA-TALLO)



1.      Perlawanan Kesultanan Banten
Setelah Portugis dapat menguasai Malaka, para pedagang mengalihkan jalur niaganya ke Selat Sunda. Para pedagang tersebut kemudian mendirikan kantor-kantor dagang di Banten. Dengan demikian, Banten berkembang menjadi bandar internasional. VOC yang pada waktu itu memfokuskan aktivitas di Batavia melihat kemajuan Banten sebagai ancaman bagi monopoli perdagannya. Oleh sebab itu, VOC berusaha memblokade daerah perdagangan Banten dengan menguasai Selat Sunda. Akibat tindakan VOC tersebut, terjadilah kontak senjata antara VOC dan pasukan Kesultanan Banten.
           
            Perlawanan Banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang memegang tampuk pemerintahan di Kesultanan Banten. Di bawah pemerintahan Sultan Agen Tirtayasa, Kesultanan banten mengalami kemajuan sangat pesat karena dapat mematahkan serangan VOC dan berhasil merusak perkebunan VOC. Kemajuan Banten tersebut terhambat setelah terjadi perpecahan di kalangan istana Banten. Terjadi perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya Sultan Haji. Sultan Haji sudah berhasil dipengaruhi oleh VOC.

PERLAWANAN TERHADAP VOC : KESULTANAN BANTEN, MATARAM SERTA MAKASSAR (GOWA-TALLO)


            Untuk menyingkirkan ayahnya, Sultan Haji meminta bantuan VOC. Dengan bantuan VOC, pada tahun 1683, Sultan Haji bisa mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa. VOC menuntut imbalan atas jasa yang telah diberikan kepada Sultan Haji.

            Pada tahun 1684, Sultan Haji menandatangani suatu perjanian dengan VOC. Isi perjanjian itu menyatakan bahwa Banten menjadi daerah taklukkan VOC. Ia harus mengakui monopoli VOC, memberikan hak kepada VOC sebagai satu-satunya pihak yang mengani perdagangan, dan bersedia mengusir semua orang Eropa kecuali Belanda. Sultan Haji juga harus membayar biaya perang ketika menundukkan Sultan Ageng Tirtayasa dan mengizinkan VOC membangun benteng di Banten. Dengan adanya perjanjian tersebut, Banten secara praktis dikuasai VOC da sultannya menjadi boneka VOC. Perlawanan-perlawanan rakyat Banten kemudian tidak mampu menandingi kekuatan VOC.

2.      Perlawanan Kesultanan Mataram
Sultan Agung berusaha mempersatukan wilayah Pulau Jawa menjadi satu kesatuan di bawah kekuasaan Mataram. Dalam mencapai tujuan di Batavia. VOC tidak bisa mengakui kekuasaan Mataram atas Banten. Dengan demikian, Banten harus ditundukkan. Akan tetapi, antara Mataram dan Banten ada Batavia yang menjadi tempat bercokolnya Belanda.

Sultan Agung tau bahwa VOC tidak suka melihat kekuasaan Mataram makin luas. Oleh sebab itu untuk menguasai Banten, maka Kesultanan Mataram harus mengusir VOC dari Pulau Jawa terlebih dahulu.

Pada tanggal 22 agustus 1628, tentara Mataram utusan Sultan Agung berangkat ke Batavia melewati jalan darat dan laut. Tentara Mataram dipimpin oleh Dipati Ukur. Tentara Mataram menyerbu benteng Holandia di Batavia pada tanggal 21 september 1628. Dalam serangan itu, Bahurekso gugur dalam peperangan. Tidak berapa lama datang pasukan bantuan dari Mataram dipimpin oleh Tumenggung Sura Agul Agul, Kyai Dipati Madurekso, dan Kyai Dipati meriam kapal VOC. Karena mengalami kesulitan, akhirnya pasukan Mataram membendung sungai Ciliwung.

Akibatnya, tentara Belanda kekurangan air dan timbul wabah penyakit di Batavia. Akan tetapi, keadaan pasukan Mataram sudah sangat lemah. Mereka kehabisan persediaan makanan. Disamping itu, pasukan Mataram banyak juga yang menjadi korban penyakit, seperti malaria. Oleh sebab itu, tentara Mataram terpaksa mundur dari Batavia. 


Pada tahun 1629, Sultan Agung mengirimkan pasukan perangnya untuk kembali menyerang Belanda di Batavia. Sultan Agung menambah jumlah tentara, mengadakan persiapan lebih matang, dan mendirikan lumbung-lumbung beras Mataram di Tegal dan Cirebon dibakar VOC, tetapi tentara Mataram pantang mundur. Dipati Puger berhasil menghancurkan benteng Hilandia. Setelah itu pasukan Mataram mengepung benteng Bommel. Akan tetapi, Pieterzoon Coen meninggal karena sakit kolera. Serangan Mataram yang kedua ini pun tidak berhasil dan tentara Mataram terpaksai kembali dala keadaan lemah karena kelaparan.

Sekalipun usaha untuk menghancurkan VOC di Batavia dua kali gagal, namun sikap Sultan Agung tidak pernah kenal kompromi terhadap VOC. Bahkan serangan terhadap VOC terus dilakukan di sepanjang pesisir utara Jawa Barat. Sultan Agung menempatkan pasukan lumbung-lumbung beras sambil berharap serangan terhadap VOC di Batavia dilancarkan lagi.

Akan tetapi, cita-cita Sultan Agung tidak sempat terlaksanan karena pada tahun 1645 Sultan agung wafat. Ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat I (1645-1677).

3.      Perlawanan Kesultanan Makassar (Gowa-Tallo)
Kesultanan Gowa-Tallo adalah sebagai sumber perdagangan di wilayah Indonesia bagian Timur. Kesultanan Gowa dengan bandar Sombaopu adalah pelabuhan transit. Oleh karena itu, VOC memandang perlu untuk menguasai pelabuhan Gowa. VOC berusaha membuka hubungan dengan raja dan meminta izin berdagang sekaligus membujuk sultan untuk melarang orang asing selain timbullah bentrokan-bentrokan bersenjata antara Makassar dan VOC.

Pada tahun1616, terjadi insiden pertama antara Kesultanan Gowa dan Belanda. Sekelompok pembesar Gowa diundang dalam suatu jamuan di kapal VOC. Akan tetapi, akhirnya mereka dilucuti senjatanya. Sebagai tindakan balasan, Kapal VOC lain yang sedang mendarat di Ambon diserang dan awak kapalnya dibunuh.

Puncak perlawanan terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin yang berkuasa pada tahun 1653-1669. Pada waktu itu, Belanda mengadu domba Sultan Hasanuddin dengan Aru Palaka. Aru Palaka adalah bangsawan Soppeng-Bone yang pada tahun 1660 memberontak terhadap Gowa. Bone yang ditaklukkan Gowa pada tahun 1644 ternyata mendapat bantuan dari Belanda.
Pada tahun 1667, pertempuran meletus di dua tempat, yaitu di Buton dan makassar. Dalam perang ini, Belanda mendapat bantuan dari pasukan Aru Palaka. Pertempuran itu mengakibatkan banyak korban jatuh. Bakan pemimpin pasukan Belanda yang bernama C. Speelman hampir saja tewas. Akhirnya, Makassar harus mengakui keunggulan Belanda. Sultan Hasanuddin harus Bongaya, antara lain yaitu :

a.       VOC memegang monopoli dagang di seluruh Sulawesi dan Tenggara
b.      Aru Palaka dikukuhkan menjadi Raja Bone.
c.       Makassar harus menyerahkan benteng-bentengnya kepada VOC.
d.      Makassar harus membebaskan seluruh daerah bawahannya, misalnya Sopeng, Luwu, Wajo, dan Bone.
e.       Makassar harus membayar kerugian akibat perang.

4.      Perlawanan Kesultanan Banjar
Pada abad ke-16, orang Portugis mendatangi pelabuhan Banjar untuk memberi kapur barus, berlian, dan batu-batuan berharga lainnya. Pada tahun 1606. Belanda rupanya tertaik datang ke Banjar. Mereka mencari rempah-rempah terutama ladanya Belanda menghendaki agar hasil lada hanya dijual kepada Belanda dengan perjanjian kontrak. Akan tetapi, permintaan itu ditolak. Oleh sebab itu, terjadilah perselisihan antara Sultan Banjar dengan orang-orang Belanda yang mengakibatkan tewasnya Gilles Michelszoon.

Pada tahun 1610, Kapal-kapal Belanda datang ke Banjar. Pelabuhan Banjar ditembaki oleh kapal-kapal Belanda sehingga banyak penduduk tewas. Setelah peristiwa itu, semakin banyak orang Belanda datang ke pelabuhan Banjar untuk berdagang.

Pada tahun 1626, Belanda datang lagi untuk mencari lada. Kedatangan Belanda ini mendapat saingan dari inggris dan Denmark. Dengan demikian, ruang gerak Belanda menjadi terbatas. Oleh karena itu, untuk meluaskan geraknya, Belanda harus menyingkirkan pedagang Inggris dan Denmark.

Pada tahun 1635, VOC mendapatkan hak monopoli perdagangan lada dari sulta Banjar Dengan Monopoli perdagangan tersebut, VOC makin berkuasa dan seringkali ikut campur tangan dala urusan pemerintahan kesultanan Banjar. Reaksi rakyat Banjar timbul setelah kebebasan mereka dalam perdagangan terancam oleh VOC. Salah satu tokoh penentang VOC yaitu Sultan Mohammad Aliudin Aminullah.

Meskipun masyarakat Banjar berjuang mati-matian menentang kekuasaan VOC, namun tidak membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan. Ketidakberhasilan serangan Banjar terhadap VOC, antara lain disebabkan tidak adanya organisasi yang matang dan persenjataan yang masih sederhana. Denga demikian, kekuasaan VOC di Banjar semakin merajalela dan leluasa. VOC tidak hanya menguasai perdagangan, tetapi juga mempengaruhi secara langsung pemerintahan Banjar.

Demikian Penjelasan Tentang Perlawanan Terhadap VOC. Semoga bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates: