PENGENDALIAN SOSIAL : CARA, BENTUK, LEMBAGA DAN SIFAT-SIFATNYA

1.      Cara pengendalian sosial

PENGENDALIAN SOSIAL : CARA, BENTUK, LEMBAGA DAN SIFAT-SIFATNYA


a.       Persuasif tanpa kekerasan, cara yang menekankan pada usaha untuk membimbing atau mengajak berupa anjuran. Contoh: penertiban PKL di beberapa kota besar dengan menempatkannya di lokasi-lokasi tertentu.
b.      Kekerasan atau paksaan (coersive), cara yang dilakukan setelah langkah pertama tidak berhasil. Apabila dibujuk tidak juga berhasil, baru kita bertindak keras untuk mengatasi prilaku menyimpang dari seorang individu. Contoh: polisi pamong praja terpaksa membongkar kios para PKL karena pedagang tersebut mengabaikan peringatan sebelumnya.
c.       Kompulsi, yakni cara dengan menciptakan situasi yang bisa mengubah sikap atau prilaku yang menyimpang. Contoh: ketika ada beberapa orang siswa yang tidak mau membersihkan lingkungan, maka semua komponen sekolah senantiasa menunjukkan perilaku yang memerhatikan lingkungan. Seperti kepala sekolah membuang sampah plastik ke keranjang sampah.
d.      Vervasi, yakni cara dengan melakukan berulang-ulang penyampaian norma, dengan harapan norma itu melekat pada diri individu yang melakukan penyimpangan.

2.      Bentuk pengendalian sosial
Untuk mencegah dan mengatasi prilaku menyimpang maka bentuk-bentuk pengendalian dapat dilakukan seperti hal-hal berikut:
a.       Cemoohan, seseorang yang melakukan penyimpangan mendapat cemoohan atau ejekan dari kelompoknya, sehingga dia meninggalkan perilaku menyimpangnya.
b.      Teguran, sebagai pengingat utama ketika memasuki penyimpangan primer.
c.       Pendidikan, proses pangajaran sepanjang hayat baik pendidikan formal maupun non formal. Melalui pendidikan, seseorang individu akan dituntun agar selalu berperilaku sesuai norma yang berlaku.
d.      Agama, karena setiap orang memiliki agama serta keyakinannya masing-masing, maka apabila ada orang yang melanggar pasti akan dikaitkan dengan masalah ajaran agama dan kehidupan setelah meninggal, atau kesimpulannya terdapatnya kehidupan di surga dan neraka.
e.       Gosip, ialah berita yang menyebar secara cepat dan biasanya tidak berdasarkan pada kenyataan. Kritik sosial secara terbuka dilontarkan supaya orang yang diidentifikasi berperilaku menyimpang berhati-hati dalam melakukan berbagai tindakannya.
f.       Ostraisme, yakni pengucilan warga masyarakat yang berperilaku menyimpang.
g.      Fraundulens, yakni pengendalian sosial dengan cara meminta bantuan pihak lain yang di anggap lebih kompeten dalam mengatasi masalah.
h.      Intimidasi, artinya dilakukan dengan cara menekan, memaksa, atau mengancam seseorang untuk berperilaku sesuai kelompoknya.
i.        Kekerasan fisik, biasanya berupa pemukulan, atau kalau sudah fatal bisa juga sampai penganiayaan dan pembunuhan atau pembakaran pada individu yang telah mengalami penyimangan sekunder.
j.        Hukum, pengendalian yang didasarkan pada sanksi-sanksi yang ditetapkan dalam sebuah perundang-undangan, baik itu pidana maupun perdata dan pengendalian ini umumnya berupa denda ataupun hukuman penjara.


3.      Lembaga pengendalian sosial
a.       Kepolisian
Polisi ialah bagian dari lembaga pemerintah yang bertugas memlihara keamanan, ketertiban masyarakat, dan wajib mengambil tindakan terhadap orang yang menyimpang sesuai dengan ketentuan undang-undang.

b.      Pengadilan
Pengadilan merupakan suatu badan yang dibentuk oleh negara untuk menangani, menyelesaikan dan mengadili dengan memberikan sanksi yang tegas terhadap pelanggar peraturan.

c.       Adat istiadat
Adat istiadat ialah aturan ataupun kebiasaan yang tumbuh dari suatu masyarakat atau daerah yang dianggap memiliki nilai dan mesti dijunjung tinggi serta dipatuhi oleh anggota pengikutnya.

4.      Sifat-sifat lembaga pengendalian sosial
a.       Tindakan yang bersifat preventif
Usaha yang dilakukan sebelum tindakan penyimpangan terjadi. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya pelanggaran. Contohnya, nasihat kepada anak/siswa sebelum siswa itu melakukan pelanggaran. Contoh lainnya ialah seorang anak diajari ilmu agama sejak dini agar dewasa nanti ia terhindar dari perilaku menyimpang.

b.      Tindakan yang bersifat represif
Tindakan yang dilakukan setelah terjadi pelanggaran dengan upaya untuk memulihkan kondisi seperti semula. Misalnya, seorang pembunuh yang diajukan ke pengadilan setelah mendapatkan hukuman diharapkan pembunuh itu bisa berperilaku baik.


Demikian penjelasan mengenai PENGENDALIAN SOSIAL : CARA, BENTUK, LEMBAGA DAN SIFAT-SIFATNYA, semoga dapat bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates: